Kepada Kamu
Yang tak pernah memberikan
Sekotak cokelat, seikat bunga, kejutan candle light dinner
Namun menawarkan cinta yang seperti rumahSungguh, apa lagi yang aku cari
Jika sudah punya hangat
Tempat yang setiap jiwa damba untuk pulang pada akhirnya
maaf lahir batin
Tuhan memaafkan hambanya yang bersalah.
bagaimana mungkin seorang hambanya tidak memaafkan sesama.
secarik kertas kosong bersih, belum ternoda dengan pena. ketika terhapuspun masih berbekas noda yang dibuat.
begitupun luka yang dibuat, diobatipun masih berbekas luka yang ditinggalkan. selama 4tahun kah maaf itu tidak terucap atau kata “aku memaafkanmu” terucap dari lisan maupun tulisan yang kau berikan kepadaku. berkali-kali kata maaf terlontar untukmu, tetapi satu katapun tidak terucap darimu. besarkah salah!
aku yakin Tuhan memaafkan sekecil dan sebesar kesalahan hambanya. walaupun tak pernah kudengar dan kulihat tulisan maafmu, semoga disana kau sudah memaafkanku dari lubuk hatimu yang paling dalam. aku harap.
mohon maaf lahir batin. :)
#ramadhan #idulFitri #1433H #bekasi #indonesia
(Source: icanread)
Bernafas Maksimal
Tuhan, apakah ini maksimalnya??
pikiran dan hati ini entah harus berbicara apalagi.
tetesan airpun ikut turun,
kehangatan,
dingin selalu merasuk hingga tulang rusukpun rapuh!
Tuhan, sedikit waktu yang dialami. sedikit pula maksimal yang menuju kemaksimalan hingga jatuh tak berdaya, bergerak, bernafaspun tak mampu!
bergerak tertatih, bernafas tersengal-sengal, yang dirasakan saat ini! ruang gerak hingga bernafaspun kosong. entah bangkit itu datang dari mana!
pembiasaan diri lah obat paling maksimal!
pembiasaan DIRI
semua orang memiliki masa lalu atau pun kenangan. masa lalu yang membuat indahnya menjadi kenangan, berterimakasihlah memiliki masa lalu dari kenangan yang bisa sesaat teringat akan isi yang diberikan hingga kekosongan yang pergi begitu saja hingga jauh tak tersisa bentuk dan hanya puing asa serta kebencian dari subject yang tidak memiliki jiwa dan hati yang dibodohi oleh subject-subject disekeliling. yang seutuhnya menginginkan sebuah pujaan berisikan pujangga-pujangga dalam jiwa. yang tertinggal pun merasa jiwanya telah hilang setengah paruh waktu dan telah merasuki tubuhnya hingga akar yang tumbuh dari bibit yang ia tanam beranjak mencari kematangan dan kekuatan dari jiwa yang mereka sebut kekurangan.
tidak ada sayatan sakit, tetapi hanya belenggu yang memberikan asa serta pengertian bahwa ini peluh yang jika dikumpulkan hingga penuh hanya berujung embun yang ada di jendela .
tidak ada pedih, mungkin hanya bayangan yang menghantui dari setiap langkah, gerak, pikir. dan sisa-sisa percakapan semalam.
sekarang bagaimana membiasakan hati yang terus dihantui seperti layaknya mimpi buruk dan membiasakan diri ini dengan nuansa yang diberikan.
sehingga dusta yang selalu ia perlihatkan tidak perlu lagi diungkapkan dari setiap gerak. dan tidak ada lagi dusta berkepanjangan.
(via i-heart)
(Source: rainbowpills, via lifeliveson)